2 Jun 2016

thumbnail

Formulir Online Perndaftaran PPDB 2016/2017

Posted by Admin  | No comments

Read More»

12 Jan 2016

thumbnail

Buku Refenssi Siswa ( Teknik Komputer dan Informatika ) Rekayasa Perangkat Lunak

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments





Buku ini dapat di unduh sesuai dengan Referensi dari Sumber Belajar-Ditptsmk dan sesuai kebutuhan Guru Produktif  ( Teknik Komputer dan Informatika ) Rekayasa Perangkat Lunak

EMROGRAMAN BERORIENTASI OBJEK               RPL Pemrograman berorientasi obyek XI 2               Basis Data Semester 2
               Donwload                                           Download                                       Download

PEMROGRAMAN WEB X-1-1               JARINGAN DASAR X-1-2                Jaringan Dasar
                  Download                                          Download                                       Download

SISTEM OPERASI X-2-1              SISTEM OPERASI X-1-1                  PERAKITAN KOMPUTER X-2-1
                   Download                                       Download                                        Download

PERAKITAN KOMPUTER              C2-Simulasi Digital-X-2                 C2-Simulasi Digital-X-1
                 Download                                        Download                                      Download

RPL BASIS DATA XI-1-1
              Download
                                                  









Read More»

5 Jul 2015

thumbnail

Cara Membersihkan Paru-paru Hanya dalam Waktu 3 Hari

Posted by Admin  | No comments


Paru-paru merupakan salah satu organ penting pada tubuh yang berfungsi sebagai alat pernafasan. Paru-paru terletak di bawah tulang rusuk yang memiliki tugas yang sangat berat, apabila yang dihirup adalah udara kotor yang mengandung polutan maka paru-paru akan menjadi kotor.




Cara Membersihkan Paru-paru Hanya dalam Waktu 3 Hari

Paru-paru kotor merupakan salah satu penyebab dari timbulnya berbagai macam penyakit, salah satunya adalah kanker paru-paru. Saat ini, penyebab terbesar kanker paru-paru adalah rokok. Rokok bersifat candu, jika seseorang sudah kecanduan rokok maka aktifitas merokok akan menjadi kebutuhan rutin. Selain rokok, tentu masih banyak penyebab lain yang bisa menjadikan paru-paru anda menjadi kotor termasuk diantaranya polusi udara yang dihasilkan dari mesin kendaraan.

Bagaimana cara membersihkan dan memurnikan kembali paru-paru? Berikut ini beberapa tips untuk memurnikan paru-paru Anda yang bisa anda coba hanya dalam waktu 72 jam atau 3 hari saja.

Pertama-tama, jauhi semua produk makanan yang mengandung susu dari menu harian anda. Hal ini diperlukan untuk memperlancar proses pembersihan toxin dari dalam tubuh selama menjalani tips ini.

Pada hari pertama, minum secangkir teh herbal atau teh hijau sebelum tidur. Ini akan melepaskan semua racun yang terkandung di usus. Tapi, tolong diingat, selama menjalani proses pemurnian paru-paru, Anda tidak boleh melakukan pekerjaan berat, dan jangan membebani paru-paru anda denga aktifitas menahan nafas berlama-lama atau meniup balon hingga merasa kelelahan.


Pagi hari sebelum sarapan, minumlah 300 ml air perasan lemon yang dicampur dengan sedikit air. Jika Anda tidak menyukai rasa lemon, anda bisa menggantinya dengan jus nanas. Kedua buah ini mengandung antioksidan alami yang meningkatkan sistem pernapasan.

Minum 300 ml jus wortel antara sarapan dan makan siang. Jus ini akan membantu meningkatkan pH darah Anda selama 72 jam pembersihan.

Setelah makan siang minum 400 ml jus buah yang mengandung banyak kalium. Buah yang kaya akan kalium diantaranya: kurma, alpukat, pepaya, pisang, dan apricot. Kalium bertindak sebagai tonik pembersih yang besar pengaruhnya.

Malam harinya, minum 400 ml jus cranberry sebelum tidur, yang akan membantu Anda dalam memerangi bakteri yang dapat menyebabkan infeksi di paru-paru selama anda tidur.

Aktifitas pemurnian paru-paru ini bisa anda mulai dari pagi hari dengan mengikuti rutinitas yang disebutkan di atas. Lakukan minimal selama selama 3 hari atau 72 jam dan rasakan hasilnya. Semoga bermanfaat.
Read More»

4 Jul 2015

thumbnail

DATA PPDB 2015-2016 154-SMK PASUNDAN

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments





Read More»

10 Jun 2015

thumbnail

Program Kegiatan Ekstrakurikuler SMK Pasundan Cilamaya

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments


PROGRAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER
SMK PASUNDAN CILAMAYA
TAHUN 2014/2015

I.         DASAR KEGIATAN
Dalam pembukaan undang – undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga Negara Republik Indonesia berhak memperoleh kehidupan yang bermutu sesuai minat dan bakat yang dimiliki tanpa memandang status social, ras, etnis, agama dan gender.
Tantangan dalam pendidikan adalah menyiapkan peserta didik untuk hidup di zaman millennium ketiga, hal ini disebabkan karena pada zaman tersebut sebagian besar apa yang terjadi dan kondisinya belum dikenal, penuh akselerasi yang luar biasa, penuh perubahan serta penuh tantangan.
Suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan adalah “Belajar”, belajar hendaknya dapat melihat kedepan dan belajar untuk mengantisipasi realita ini menjadi semakin penting bagi peserta didik untuk mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler dan kelenturan dalam pemikiran serta kemampuan untuk memecahkan masalah – masalah secara kritis dan kreatif.
Dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana strategis (Renstra) Depdiknas 2005-2009 menekankan bahwa perspektif pembangunan pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan aspek intelektual saja melainkan juga watak, moral, social, dan fisik peserta didik atau dengan kata lain menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Semua jenjang lembaga pendidikan formal (sekolah) mempunyai tugas untuk mensintesa itu semua.
Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler lebih mengandalkan inisiatif sekolah. Secara Yuridis, pengembangan kegiatan ekstrakurikuler memiliki landasan hokum yang kuat, karena diatur dalam surat Keputusan Menteri yang harus dilaksanakan oleh sekolah, salah satu keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 125/U/2002 tentang kalender pendidikan dan jumlah jam belajar efektif di sekolah pengaturan kegiatan ekstrakurikuler dalam keputusan ini terdapat Bab 5 pasal 9 ayat 2 “pada tengah semester 1 dan 2 sekolah melakukan kegiatan olahraga dan seni ( porseni ), karya wisata, lomba kreatifitas atau praktek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan seutuhnya.” Dalam bagian lampiran keputusan mendiknas ini juga dinyatakan liburan sekolah atau madrasah selama bulan ramadhan diisi dan dimanfaatkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan, yang diarahkan pada peningkatan akhlak mulia, pemahaman atau amaliah agama termasuk kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang bermuatan moral.

II.      TUJUAN KEGIATAN
Pada umumnya pendidikan bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa didik untuk mengembangkan potensi, bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang diminati siswa untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman terhadap berbagai mata pelajaran yang pada suatu saat nanti bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari, melalui kegiatan ekstrakurikuler dan memberikan sumbangan yang berarti bagi siswa untuk mengembangkan minat – minat baru, menanamkan tanggung jawab sebagai warga Negara, melalui pengalaman-pengalaman dan pandangan – pandangan kerja sama dan terbiasa dengan kegiatan mandiri.

III.   PRINSIP KEGIATAN
  1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan potensi, bakat, minat peserta didik masing – masing.
  2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginan dan diikuti secara sukarela peserta didik.
  3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh.
  4. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler dalam suasana yang disukai dan menggembirakan peserta didik.
  5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang membangun semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
  6. Kemanfaatan social, yaitu prinsip kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat.


IV.   FORMAT KEGIATAN
  • Individual, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik secara perorangan.
  • Kelompok, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh kelompok – kelompok peserta didik.
  • Klasikal, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh peserta didik dalam satu kelas.
  • Gabungan, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik antar kelas atau antar sekolah.
  • Lapangan, yaitu format kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan diluar kelas atau kegiatan lapangan.
V.  MOTTO SEKOLAH
Pengkuh Agmana, Luhung Elmuna, Jembar Budayana,


VI.    WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN
  1. Waktu dan Kegiatan    : Selasa – Sabtu
  2.  Tempat Kegiatan        : SMK Pasundan Cilamaya


Read More»

22 Mei 2015

thumbnail

Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang dialami oleh remaja secara kontinue.


pertumbuhan dan perkembangan adalah proses yang saling berhubungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan remaja.Pertumbuhan merupakan proses yang berkaitan dengan dengan perubahan kuantitatf yang mengacu pada jumlah besar serta luas yang bersifat konkret yang biasanya menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah proses perubahan dari segi fisik yang berlangsung normal dalam perjalanan wakt tertentu. Dalam setiap pertumbuhan bagian – bagian tubuh memiliki tempo kecepatan yang berbeda – beda. Misalnya pertumbuhan alama kelamin pria, pada masa anak-anak alat kelamin tumbuh lambat namun setelah pubertas mengalami percepatan. Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat mengalami percepatan saat masa anak-anak namun setelah masa pubertas relatig lambat bahkan terhenti.

1. Faktor – Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan yang kurang normal pada organisme

a. Faktor – faktor yang terjadi sebelum lahir. Misalnya Pada saat masa kehamilan seorang ibu dan janin mengalami kekurangan nutrisi , Kercaunan, TBC dan sebagainya

b. Faktor ketika lahir. Salah satunya yaitu pendarahan pada otak bayi intracranial haemorage disebabkan oleh tekanan dinding rahim sewaktu ia dilahirkan dan oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukakan dengan bantuan tangver-lossing

c.Faktor yang dialami bayi setelah lahir antara lain oleh karena pengalaman traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi / Janin terpukul , atau mengalami serangan sinar matahari dan sebagainyayayasan perawatan bayi dan lain-lain

d. Faktor Psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan bibu, ayah atau kedua orang tuanya . Sebab lain ialah anak dititipkan pada suatu lembaga seperti rumah sakit, rumah yatim piatu sehingga mereka kurang sekali mendapatkan perwatan jasmaniah dan cinta kasih sayang orang tua. Anak – anak tersebut mengalami kehampaan psikis ( innatie psikis )

Spiker (1966) mengumukakan dua macam pengerian yang harus dihubungkan dengan perkembangan yakni

1. Ortogenetik yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya indivdu yang baru dan seterusnya sampai dewasa

2.Filogenetik yakni perkembangan dari asal usul manusia sampai sekarang ini. Perkembangan perubahan fungsi sepanjang masa hidupnya menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga tersedia sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan Ortogenetik mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah kepada kesempurnaaan manusia.

B. Hukum – Hukum Pertumbuhan dan Perkembangan

1.   Hukum Cephalocoudal

Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-­bagian pada kepala tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Se­orang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” daripada bagian-bagian tubuh lainnya. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih cepat daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa perkembangan pranatal, neonatal, rnaupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang tubuhnya mula-mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.

2.   Hukum Proximodistal

Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung, hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan kaki. Anak masih bisa me­langsungkan kehidupannya bila terjadi kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelainan sedikit saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.

3.   Perkembangan Terjadi dari Umum ke Khusus

Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke hal-hal yang khusus. Terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh Werner. Anak lebih dahulu mampu menggerakkan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu daripada menggerakkan jari-jari tangannya.

4.   Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-Tahapan Perkembangan

Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi ke dalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri-ciri perkembangan yang berbeda antara ciri-ciri yang ada pada suatu masa perkembangan dengan ciri-ciri yang ada pada masa perkembangan yang lain.

Ada aspek-aspek tertentu yang tidak berkembang dan tidak meningkat lagi, yang hal ini disebut fiksasi. Aspek intelek pada anak-anak tertentu yang memang secara konstitusional terbatas, pada suatu saat akan relatif berhenti, tidak bisa atau sulit berkembang dan dikembangkan.

Contoh penahapan dalam perkembangan manusia itu antara lain meliputi: masa pra-lahir, masa jabang bayi (0 – 2 minggu), masa bayi (2 minggu – 1 tahun), masa anak pra-sekolah (1 – 5 tahun), masa sekolah (6 – 12 tahun), masa remaja (13 – 21 tahun), masa dewasa (21 – 65 tahun), dan masa tua (65 tahun ke atas).

5.   Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan

Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus-menerus dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa berlaku umum. Justru perbedaan-perbedaan waktu, yaitu cepat-lambatnya sesuatu penahapan perkembangan terjadi, atau sesuatu masa perkembangan dijalani, menampilkan adanya perbedaan-perbedaan individu.

Dalam praktek sering terlihat dua hal sebagai petunjuk keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yakni:

a) Jika perkembangan kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalitas fisiknya yang terganggu.
b) Jika perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur empat tahun misalnya masih mengalami kesulitan dalam berbicara, mengemukakansesuatu dan terbatas perbendaharaan kata, mudah diramalkan anak itu akan mengalami kelambatan pada seluruh aspek perkembangannya.

D. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya

Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena itu, dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hukum, perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia.

1.   Remaja Menurut Hukum

Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 Undang-Undang No.1/1974 tentang Perkawinan).

2.   Remaja Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik

Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita atau sejak anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu tidur) yang pertama kali. Khusus berkaitan dengan kematangan seksual merangsang remaja untuk memperoleh kepuasan seksual. Hal ini dapat menimbulkan gejala onani atau masturbasi. Kartini Kartono (1990: 217) memandang gejala onani ini sebagai tindakan remaja yang negatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk mendapatkan kepuasan seksual yang semu (penodaan diri).

3.   Batasan Remaja Menurut WHO

Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual  sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991: 9)

4.   Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis

Salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah: “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito, 1991: 11).

Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), namun isi-isi tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan buat orang yang bersangkutan.

Negentropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan negentropy ini merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas, ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

5.   Definisi Remaja untuk Masyarakat Indonesia

Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi, maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya adalah sebagai berikut:

1) Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
2) Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi mempermalukan mereka sebagai anak-anak (kriteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.
4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.

WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama didasarkan pada usia kesuburan wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria, dan WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya:

1) Kegelisahan: Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi.
2) Pertentangan: Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.
3) Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mencoba apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat penyaluran yang tidak ada manfaatnya.
4) Keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pecinta alam, dan sebagainya.
5) Mengkhayal dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karier.
6) Aktivitas berkelompok: Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama, mengadakan penjelajahan secara berkelompok.

Sumber refrensi :
Sunarto,H, dan Agung,Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta.
Hurlock B Elizabeth.1978.Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Semiawam R.Cony. 1998.Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.UNY
Sobur Alex.2009.Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
Read More»

13 Mei 2015

thumbnail

Kebon Entéh Tatar Sunda Ilang Dangiang

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments

Aki Usep Warlian, resep ngebon nyaah ka lingkungan [Potrét/Ilustasi: dok.pribadi]
Taun 1970-an, Perkebunan Entéh di Jawa Barat pikareueuseun. Lahanna lega, masarakatna raharja, ogé lingkunganana kajaga. Ayeuna mah, panineungan nu pinuh ku mamanis kitu téh, kari waasna. Kitu ceuk Usep Warlian, pangusaha Perkebunan Entéh PT. Sumatera Toba Wangi Sukabumi, nyoréang mangsa ka tukang. 
Wanci meleték panon poé, sabudeureun kebon entéh mah tiris kénéh. Tapi, keur Usep Warlian, mah teu matak pugag lumampah. Inyana biasa mapay-mapay kebon entéh, niténan nu keur ngurus jeung metik pucuk entéh. Tapi sajeroning kitu, remenna mah ngusap dada. “Kapungkur mah, nu usaha entéh dipupujuhkeun pisan, ayeuna mah tos robih,” cek ieu teureuh Pangaléngan mitineung mangsa bihari,
Baheula, taun 60-70 an mah, keur jaya-jayana kamekaran kebon entéh di Jawa Barat. Mangsa harita, najan loba pangaruh deungeun, kebon téh kaurus pisan. Katinggal dina kaayaan lingkungan sabudeureun perkebunan, éstu kariksa, ti mimiti jalan satapak tepi ka jalan aspalna. “Éstu raresik jeung pikabetaheun, diropéa saban poé ku pagawé husus. Unggal pagawé, ti mimiti nu ngulanter (magang) nepi ka pupuhuna satuhu kana aturan, teu béngkok sembah, gawé bareng ngurus perkebunan kalayan daria sangkan produksina terus undak,” pokna deui.
Mangsa jaya harita ogé, gedé pangaruhna keur sakumna pangeusi kebon. Cék Aki Usep (kitu katelahna), sakabéh aréal perkebunan dipinuhan ku tangkal Entéh jeung tutuwuhan lianna, saperti aya tangkal Kina, utamana di aréal nu dipikahariwang, nu sawaktu-waktu bakal keuna ku musibat urug. Kitu deui keur ngajaga sumber cai sangkan ulah tepi kasaatan upama nincak usum halodo. “Jaman harita mah, umumna lingkungan perkebunan téh kajaga pisan. Asa teu kakuping kakurangan cai, boh keur kaperluan karyawan, boh keur masarakat sabudeureun perkebunan,” cék ieu pangusaha nu ogé milu ngagarap kebon di Cisujen nu kaeréh Cianjur jeung Perkebunan Jaya Negara di wilayah Kabandungan Cibadak.
Kumaha ari mangsa kiwari? Nyaritakeun kamekaran usaha entéh, nu nyangkaruk dina pipikiran Aki Usep mah, ukur kaprihatinan. Remen katodél mamaras rasana, upama nyaksian kamekaran perkebunan Entéh ti mangsa ka mangsa. Pangusaha swasta di widang entéh, loba nu teu walakaya, atuh lahan perkebunan nagara ogé geus loba nu disorobot ku masarakat. “Kaayaan kitu, balukar tina kawijakan pangawasa perkebunan nu teu tegas jeung rada teu pikahartieun,” cék ieu teureuh Sunda nu pernah milu latihan Management Tea Plantation nu diayakeun ku Colombo Plan – India.

Butuh Panuyun
Perkebunan entéh lain saukur néangan untung, tapi keur ngajaga lingkungan tina rupa-rupa musibat saperti urug. Pangna kitu, cék ieu panitén entéh téh, sawadina pamaréntah tetep kudu ngahangkeutkeun deui kamekaran usaha entéh, kaasup nu digarap ku swasta. Upama Aki Usep boga kacindekan kitu, lantaran biasa  ngabandungan pihak perkebunan pamaréntah nu mindeng nyebutkeun, yén hasil produksi entéh turun atawa rugi, lantaran biaya produksi naék, utamana pangaruh klasik saperti BBM jeung listrik. Pamadegan pamaréntah kawas kitu, tangtu matak prihatin, lantaran ari kanyataanna, aya sawatara héktar tanah nu kaasup kebon pamaréntah, malah diséwakaeun ka masarakat sacara pribadi pikeun dipelakan tatatén sausum, kayaning engkol, kentang jeung sajabana. “Ari pepelakan modél kitu, apan gampil pisan ngarobah habitat lingkungan. Mun dipelakan entéh atawa kina mah bisa nyimpen cai upama halodo. Sedengkeun ari dipelakan tatanén sausum mah, jadi méakkeun cai, lantaran mun usum hujan akarna teu bisa nahan cai. Malah waktu usum caah dendeng, tepi ka ka loba ingon-ingon nu kabawa palid, padahal di aréal pagunungan anu luhurna rata-rata 1200 – 1500 m dpl. Anéh tapi nyata téa,” pokna tandes. 
Upama nu arusaha ngalap kauntungan, tangtu kudu aya mangpaat séjénna. Kitu deui, dina ngokolakeun kebon entéh. Cék ieu pangusaha nu sering panalungtikan ka mancanagara, saperti ka Pakistan, India, Maroco, Swiss, Dubai (Uni Emirat Arab), Saudi Arabia, China, Vietnam, Thailand, ogé Singapura, sawadina pamaréntah ngarojong nu arusaha sangkan ulah saukur ngitung untung jeung rugi.

Entéh Rayat Jawa Barat
Lahan-lahan perkebunan entéh ti waktu ka waktu beuki ngaheureutan. Cek Aki Usep, persisna taun 80-an, mémang beuki ngurangan. Ari perkebunan Entéh aya tilu jenis. Kahiji, nu kaasup kana Perkebunan Nagara (PTPN), kadua PBS (Perkebunan Besar Swasta) jeung katilu, Perkebunan Teh Rakyat. Ari nu kaasup PTPN, lahanna mah henteu pati robah, ngan nu dipelakna salin rupa, dirobah  tina entéh jadi sawit. Kitu deui aya nu diséwakeun ka pihak swasta keur pepelakan musiman. Nu kaasup PBS mah, aya nu pausahaan daérah, tapi lolobana mah ku swasta (kulawarga). Lantaran masalah manajemen, loba PBS nu bangkrut. Atawa lahanna aya, tapi geus robah jadi reuma. Sedengkeun Perkebunan Teh Rakyat lahanna panglegana, tapi hasilna pangsaeutikna. Lahanna kurang leuwih 25% tina awal dikokolakeun, lantaran teu aya nu jadi kojo dina masarkeun pucuk entéhna. Biasana pucuk perkebunan rakyat mah dijadikeun Téh Hijau (héjo) anu dipasarkeun ka Jawa Tengah, nu engkéna diprosés jeung kembang malati nu saterusna jadi Téh Wangi. “Numawi kitu jarang pisan aya nu diékspor. Margi kitu, pangaos gé teu undak-undak lantaran ngandelkeun pasar lokal téa,” pokna. Ngan, cék ieu carogé Enok Karyati, akibat tina tataniaga kitu, harega pucuk sering dianggap teu nguntungkeun. Lantaran dianggap teu nguntungkeun, ahirna mangaruhan kana aréal nu mingkin ngaheureutan, lantaran loba nu dibalongkar, diséwakeun jadi kandang hayam atawa dipelakan céngék jeung sabangsana.
Niténan kaayaan kitu, cék Aki Usep, pamaréntah ogé ulah ngantep teuing. Lantaran, mangpaat perkebunan entéh, saperti Perkebunan Téh Rayat bakal loba mangpaatna. Komo deui, aya béja hadé kacida, yén pihak pamaréntah Jawa Barat jeung DTI (Dewan Teh Indonesia) bakal ngabebenah deui perkebunan Téh Rakyat.
Anapon keur ngabebenahna mah, bisa ngeunteung ka nu leuwih maju, sapertina waé kamekaran Entéh di India, nu mana pamaréntah India ngarojong pisan kana kamekaran nu ngokolakeun entéh. Sapertina waé, pamaréntahna méré subsidi ti mimiti modal, gemuk, jeung nu séjénna  kaasup ngabantu masarkeunana. “Di India, pamaréntahna milu masarkeun entéh kering dina lélang lokal nu diayakeun ku India Tea Board nu ngajadikeun pangaos ékspor gumantung kana naék turunna pangaos lokal. Sedengkeun ari urang mah sabalikna. Nu nangtoskeun naék turunna pangaos lokal ditangtoskeun ku pangaos ékspor,” cek Aki Usep méré gambaran.
Lian ti kitu, keur nangtukeun harega entéh, biasana ngukur kana ajén barangna. Ngan, sual ajén teu bisa ngandelkeun téknis ngolahna wungkul, tapi kudu dibarengan ku ngokolakeun pibakaleun bahan baku pucuk entéh anu unggul. “Di India, ti awal kénéh geus diraracang nu sampurna, janten dina prosés ngolahna ogé ngahasilkeun anu ampir 80% janten ‘kualitas’  nomer hiji. Bénten sareng diurang nu seueur dimomorékeun,” pokna deui.
Sual séjénna, nyaéta masalah kawijakan nyadiakeun gemuk (pupuk) nu jauh tina harepan. Minangka gambaran, cék Usep Warlian, di nagara batur mah, pamaréntahna ngarojong toh-tohan ngaliwatan nyubsidi gemukna. Sedengkeun di urang mah ti balik, kudu meuli pupuk non subsidi nu haregana leuwih mahal.

Nyaah Lingkungan jeung Sasama
Usep Warlian, nu lahir di Pangalengan, 23 Nopember 1956, keur leutik kataji pisan hayang jadi tentara. Lantaran kitu, waktu sakola SMP ogé teu weléh aktip di pramuka. Ngan, sabada lulus SMP di Pangalengan, lanceukna (nu harita nganjrek di Karawang), ngajak Usep sangkan sakola di Karawang. “Jalaran harita mah, teu kaérong neraskeun langkung ti SMP, nya teras ngalih nuturkeun pun lanceuk sangkan tiasa neraskeun sakola, nu engkéna tiasa énggal damel,” cék Aki Usep nineung ka mangsa baheula. Di Karawang diasupkeun ka STM Karawang. Waktu harita,  enya ari cita-cita mah hayang jiga batur, bisa ngamalkeun élmu, jadi abtenar calik dina korsi empuk boga kalungguhan nu bakal ngabanggakeun kulawarga sareng rundayan. Tapi dalah  kaayaan harita nu seret biaya, ahirna damel saaya-aya. Nu penting, cek Usep tetep ngabogaan ajén komara jalma nu mangpaat, boh keur diri, kulawarga, ogé lingkungan sabudeureunana.
Keur Usep, boh carita keur leutik, boh keur rumaja taun 1960-an téh, mémang pieunteungeun saterusna. Komo sabada acrub kana kahirupan rumah tangga, hirup téh lain saukur sadirieun. Lantaran kitu, ti waktu ka waktu napakuran kalawan pinuh tarékah keur jadi tuturus kulawarga. Atuh, ieu bapa Cici Nurfatimah (kiwari S2 Aristek di IPB jeung Rizal Maula Muhamad (Tenik Industri Pertanian UGM), teu leutik harepan. Carana? ngalobakeun garapan, pangpangna di dunya perkebunan Entéh. Resep kana ngebon, pangpangna kebon entéh gé, lain saukur resep deuih tapi aya udagan séjénna, ngajaga lingkungan ogé geusan ngalarapkeun kanyaah ka sasama ku cara sodaqoh méré pagawéan ngaliwatan padat karya, boh keur nu aranom, boh keur nu rada jompo, sangkan meunang pagawéan.
Ngebon entéh ahirna mawa berkah. Lain ti ngokolakeun PT. Sumatera Toba Wangi di Sukabumi, ngagarap kebon di Cisujen nu kaeréh Cianjur jeung Perkebunan Jaya Negara di wilayah Kabandungan Cibadak, ogé jadi sering dipercaya nalungtik dunya perkebunan entéh  ka saban daérah kaasup ka mancanagara. Upama aya paribasa pangalaman guru nu utama, kitu pisan nu karasa ku Pa Usep Warlian ogé. Atuh saban dipercaya ka mamana ogé, teu weléh nyiapkeun sagalana kaasup dina sual basa. Komo ti rumaja kénéh mah, Aki Usep mah geus teu ngawagu deui kana basa Inggris mah.
Sibuk ku kagiatan, boh niténan kebon atawa méré élmu ka saban daérah, ieu teureuh Sunda mah tetep teu poho ka lingkungan bumi panganjrekanana di Komplek Bumi Sukagalih Permai Sangkanhurip, Katapang, Bandung. Keur ngalarapkeun tugas kawajibanana, masarakat gé mercayakeun ngemban tugas mupuhuan DKM Nurul Iman nu aya di sabudeureunana. “Ieu amanah, nu saleresna langkung abot, utamina kedah nyontoan nu leres-leres,” saur Pa Usep nu teu weléh natrat kana papatah, ‘Pilari nu teu dijamin ku Alloh. Rejeki tos aya nu ngatur teu kedah hariwang. Tapi élmu pangaweruh kudu dipilari, margi tina élmu, bakal nangtukeun gedé leutikna rejeki sareng Insya Alloh, éta pisan nu bakal dicandak ku urang di dunya jeung ahérat.
Papatah agama bakal nguatan hirup. Lantaran kitu, ieu pangusaha ogé, teu weléh napakkeun agama dina sagala urusan, kaasup ka putra-putrana. Malah, husus ka putra-putrana, Aki Usep teu weléh mapatahan sangkan nyiar élmu entong hayang jadi nanaon, tapi kudu nyiar élmu saloba-lobana sangkan hirup mangpaat kalawan ihlas di dunya, nu mudah-mudahan ganjaranana kasampeur  jaga di ahérat. ***
Read More»

4 Mei 2015

thumbnail

Meungkeut Tali Mimitran Ngaliwatan Iket Sunda

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments

Iket Sunda téh hasil karancagéan karuhun. Biasa  dipaké keur nututupan sirah.  Dijieun tina batik atawa lawon polos pasagi opat. 
Baheula, iket téh lain sakadar tutup sirah, tapi ogé keur nyingkahan rupa-rupa gangguan roh jahat.  Wangun jeung rupana  ngabogaan palsapah jeung harti anu mandiri. Kiwari iket mimiti loba diparaké deui boh ku para inohong boh ku masarakat biasa. Ilaharna barang-barang tradisional nu séjénna wangun segi opat dina iket sarta pola-pola atawa cara makéna tangtuna gé boga harti atawa palsapah luyu jeung modél iket nu dipakéna. Modél-modél iket kitu loba pisan di antarana saperti iket barangbang semplak, parékos, atawa porténg jsb.
Rupa-rupa iket diantarana waé nyaéta;
- Barangbang semplak, iket  ieu disebut barangbang (palapah kalapa).  Culana méh nutupan panon. Bagéan luhurna kabuka (kaciri rambut). Biasana iket modél ieu dipaké ku para jawara.
- Julang ngapak, wangun iket ieu saperti jangjang manuk nu keur hiber. Dipaké ku para sesepuh
- Kékéongan (di Banten sok disebut borongsong kéong), wangunna saperti kéong.
- Kuda ngencar, iket nu culana ditukang, ngampléh ka handap. Bagian tungtungna naék ka luhur.
- Maung heuay, wangun iket ieu saperti maung nu keur calangap.
- Parekos nangka, iket nu ieu kawilang basajan. Biasana dipaké ku masarakat umum.
- Porténg, iket culana aya di hareup jeung tungtung kaénna digulung ka tukang.
- Talingkup, iket culana ti mimiti tarang nepi ka nutupan sabeulah mata.

Abah Ilin Dasyah, kasepuhan kampung adat Cikondang nyebutkeun iket téh hartina  ‘sa-iket-an’, sabeungkeutan. Hartina, sabeungkeutan dina kahirupan sapopoe, kabijakan. Harti sacara fisik nyaéta nutup sirah tapi harti séjénna nyaéta nutupan jeung ngajaga sirah sacara batiniah (mustika na jero sirah). Di Kampung Adat Cikondang, henteu dibedakeun boh dina motif boh dina corak iket, Kuncén, kepala Adat, atawa  sesepuh bebas pikeun milih atawa maké iket nu mana waé, sarta euweuh iket husus dina prak-prakanana. Tapi dina pamakéanana  kudu luyu  jeung  wancina atawa waktuna. Saperti; kopéah dipaké dina wanci masamoan ka para tamu (umum), Iket dipaké dina wanci masamoan keur urusan adat saperti Sérén taun, Mitembeyan, tandur, dibuat, hajat solokan, hajat  paaralon, hajat lembur, jsb.

Distro Sunda
Dina ngamumule titinggal budaya karuhun rupa-rupa pisan cara nu dipaké dina mangsa kiwari. Salah sahijina aya Komunitas Iket Sunda. Éta komunitas téh diluluguan  ku Agus Roche. Tujuanana, ngamumulé jeung ngamasarakatkeun iket ka balaréa sarta meungkeut tali silaturahmi urang Sunda dimana waé ayana.
“Ngawitan kataji ku iket téh waktos nuju sering tepang sareng kang Oca (Roza Mintaredja), anjeuna salawasna teu weléh sok nganggé iket waé” ceuk Agus nétélakeun.
Ti dinya Agus Roche mimiti diajar nyieun iket-iket kasundaan sababaraha modél iket dicobaan, anu ngajarkeunana teh ibuna kang Roza. Nya ti harita pisan Agus mokalan nyieun iket anu gampang tur basajan. Dingaranan ‘iket praktis’, nyaéta iket nu geus dikaput jeung tinggal dipaké teu kudu dibeulat-beulit deui.
KIS atawa Komunitas Iket Sunda ngadeg ping 5 Nopember 2011. Éta komunitas geus remen ilubiung dina sababaraha kagiatan kasundaan. KIS milu  kagiatan Moka Jabar, Sosialisasi Iket Sunda, car free day kaasup kagiatan lembaga pamarentahan nu sipatna para pajabat nu rék maké iket, komunitas iket Sunda salawasna hadir pikeun sosialisasi jeung jadi “tukang ngiket” para pajabat saperti gubernur jeung wakil gubernur nu memang dina sababaraha kagiatan kudu maké iket Sunda.
“Malih mah dina sababaraha acara, sim kuring saparakanca kadang sok masihan heula pelatihan atanapi ngajarkeun heula kumaha cara ngadamel iket” ceuk ieu pupuhu Komunitas Iket Sunda.
Dina ngumpulkeun kaanggotaanana Komunitas Iket Sunda ngamangpaatkeun situs “jejaring sosial” facebook. “Alhamdulillah member KIS ayeuna tos dugi ka 1486 anggota, tapi teu sadaya anggota aktif da seueur ogé anu di luar Bandung” ceuk Agus ngécéskeun.
Ku ayana Komunitas Iket Sunda,  dipiharep bisa jadi panggeuing ka generasi ngora dina ngamumulé budaya lokal hususna iket Sunda.
“Upami urang amengan ka Bali, méh sadaya urang Bali ngaranggé iket adat. Tah, sim kuring gaduh emutan, piraku urang teu tiasa  ngamumule budaya Sunda, sapertos iket,” pokna deui.
Memang kiwari geus mimiti loba kaum rumaja nu maraké iket, boh dina unggal pagelaran atawa nu dipaké keur sapopoé. Ku ayana Komunitas Iket Sunda ieu dipiharep bisa ngamekarkeun tur ngamumulé budaya lokal.
Keur kahareupna Komunitas Iket Sunda boga udagan sangkan bisa ngadegkeun musieum nu lain ngan saukur mamérkeun rupa-rupa iket waé tapi jeung
palsapah oge sajarahna.
“Mudah-mudahan aya pangrojong ti pamarentah kanggo udagan ieu” Agus pinuh harepan.
Kiwari ramé pisan ngaradeg distro-distro di Bandung nu ngajualan rupa-rupa baju jeung nu séjénna. Agus ngarasa hayang ogé boga distro tapi konsépna nu béda jeung distro séjén. Nya ahirna ngadegkeun distro Sunda, distro ieu mimitina ngadeg mawa konsep kasundaan tur hayang ngangkat umumna produk-produk kasundaan kaasup ngajual rupa-rupa jinis iket.
Tina sakitu lobana model jeung jinis iket. Agus Roche minangka ti Komunitas Iket Sunda ngabagi jadi 4 golongan iket, diantarana:
1. Iket Buhun, nyaéta iket nu biasa dipaké ku kampung adat.
2. Iket Rékaan nyaéta iket jieunan téa.
3. Iket Praktis nyaéta iket nu geus dikaput sarta praktis tinggal dipaké (biasana dipaké ku nu can ngarti jeung bisa cara nyieun iket)
4. Iket Wanoja Sunda nyaéta iket tina karémbong atawa sabangsana nu dipaké ku wanoja (ieu mah iket husus rékaan atawa jieunan Komunitas Iket Sunda).
Husus iket wanoja can pati mekar. Ku kituna, ceuk Agus,  butuh pangrojong ti para kasepuhan jeung para wanoja Sunda.
Nurutkeun Agus,  nu maraké iket téh lain ngan saukur maké wungkul, tapi dipiharep kahareupna kudu aya pangaruh kana pasipatanana, misalna, wanoh kana palsapahna.
“Ulah éra makéna, da éta téh salah sahiji cicirén budaya Sunda,” pokna.***
Read More»

19 Apr 2015

thumbnail

Nanjeurkeun Ajén Atikan di Lingkungan Pasundan

Posted by Admin  | No comments

Sakumna lembaga pendidikan dasar jeung menengah (unit-unit garapan) nu aya di wewengkon Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan, kudu boga ciri has anu mandiri anu nganteng kana kasundaan anu nganteng kana palasipah cageur bageur bener pinter nu mangrupa tugas utama sakumna sakola.
Éta tugas utama sakola téh dideudeulan ku anu kaunggel dina visi-misi Paguyuban Pasundan nyaéta nyitak manusa-manusa Sunda anu luhung elmuna, pengkuh agamana sarta jembar budayana.
Ciri has kapasundanan di lembaga atikan nu aya dina iuh-iuh Paguyuban Pasundan téh nya tadi téa, diantarana ngaraksa ngariksa, ngamumule tur miara ajén inajén basa sastra katut kaaripan budaya lokal (Sunda) bari diwedelan tur dikuatan ku ajén inajén Agama Islam.
Nya pikeun ngahontal éta udagan sakola-sakola Pasundan ti mimiti (SD, SMP/MTs. SMA, jeung SMK) kudu cekel deleg kana tilu hal anu kudu jadi modal pikeun ningkatkeun kuantitas jeung kualitas pendidikan. Éta tilu hal téh, nu kahiji unggal sakola kudu nyieun citra, kudu nyieun ‘bandera’ anu hadé. Ieu citra atawa bandera téh kudu jadi pikiran, kudu jadi udagan sakumna civitas akademika, boh murid, guru, kapala sakola boh pagawéna.
Ieu citra téh kudu mangrupa hiji préstasi anu monuméntal, anu salawasna jadi ‘ikon’ sakola masing-masing. Upamana dina lebah kaadaban-kaadaban, kasenian-kabudayaan, lingkungan hidup jeung préstasi olahraga, masing-masing sakola. Éta hal di luhur téh ditétélakeun Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan R.H. Tata Gautama Suryawan dina acara Rapat Koordinasi (RAKOR) Pupuhu SMA & SMK di Lingkungan YPDM Pasundan sa Jawa Barat jeung Banten, Salasa (29/3) di kampus SMK Pasundan 1 Cianjur.

Tah kumaha carana sakola-sakola Pasundan nyiptakeun citra jeung bisa ngaladénan paménta masarakat? Kang Tata ngawaler tapis naker,
Tangtos, pikeun nyiptakeun pencitraan sakola-sakola Pasundan ka masarakat peryogi ngantengkeun hubungan émosional sareng masarakat, hubungan duduluran lembaga-lembaga formal jeung nonformal bari urangna bisa merenahkeun pasang peta dina ngalaladénan kahayang masarakat.
Ti waktu ka waktu, ti jaman ka jaman, saur Kang Tata, sakola-sakola Pasundan kudu bisa ngigelan jeung ngigelkeun jaman. Lebah ngigelan, urang bisa mernahkeun manéh dina kahirupan jaman harita.
Sawangsulna, urang gé kudu bisa ngigelkeun jaman, hartina, urang kudu boga posisi jeung peran dina hirup keur naméngan paneka jaman kasajagatan. Tah peran urang, dina naméngan paneka jaman kasajagatan, tangtuna, luyu sakumaha visi sareng misi sarta kawijakan Paguyuban Pasundan “Nguatan atikan ku ajen réligi jeung budaya’.
Tah kukituna, ceuk Kang Tata deui, urang kudu yakin yén bisa kahontalna udagan atikan henteu ngan ukur nyoko dina tugas tanaga didik, tapi ogé kaasup masarakatna deuih. Lebah dieu, urang Sunda kudu bisa nyiptakeun kaayaan kondusif keur kamekaran basa jeung budaya Sunda. Lembaga-lembaga non pamarentah (LSM, Media citak/elektronik, jsb.) kudu bisa merenahkeun manéh jadi warga masarakat anu milu tanggungjawab kana hirup huripna basa jeung budaya Sunda.
Sajeroning kitu Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si dina biantarana nétélakeun, di jaman kasajagatan ayeuna, lembaga-lembaga pendidikan Pasundan, ti mimiti atikan dasar, menengah nepi ka paguron luhur geus kudu robah bari bisa ngigelan jeung ngigelkeun jaman.
Paguyuban Pasundan nu ngagaduhan poténsi sajarahna, tapi kadieunakeun ayana jeung teu ayana sami waé. Éta hal mangrupa, pananya masarakat nu kudu diwaler. Kumaha carana potret lembaga atikan Pasundan ka urang. Tah ku kituna, tékad Paguyuban Pasundan kiwari jeung ka hareupna, kudu robah tur bisa katara jeung karasa mangpaatna ku balaréa. Salian ti éta Paguyuban Pasundan baris ngawangun rasa nasionalisme. Dina raraga nanjeurkeun ajén pewarisan budaya, saur Ketua Umum Paguyuban Pasundan, aya 3 hal penting nu misti daria bari ulah leupas tina panalingaan, di antarana, pranata lingkungan, pranata pendidikan jeung pranata média. Ku kituna, pendidkan lembaga atikan anu signifikan enggoning ngawangun poténsi-poténsi sumber daya manusa dina sagala widang. Lebah dieu, tos teu tiasa ditawar-tawar deui, yén Budaya Sunda jeung Agama Islam janten titincakan jeung pamiangan Paguyuban Pasundan.
kitu kasauran Ketua Umum Paguyuban Pasundan nepikeun amanahna daria naker.
Read More»

thumbnail

Sunda-Bali Ngahiji dina Perang Bubat

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments


Perang Bubat, keur urang Sunda mah boga harti mandiri. Matak, teu anéh mun éta lalakon téh teu weléh matak panasaran.  Ari harita, eta carita téh dipinonkeun ku urang Gianyar-Bali, kalayan babarengan jeung seniman Purwakarta.
Enya, soré éta mah hawa téh tiris da girimis kerep naker. Nu boga karep lunta malem  Minggu,  14 Maret 2015, harita mah, loba nu kateug, ngadagoan hujang raat. Tapi, di sabudeureun Bale Maya Datar, Alun-alun Purwakarta  rebuan jalma noyek nyanghareupan panggung pintonan.
Daya pangirut seni Bali ditambah ku lalakon Perang Bubat, jadi pangbibita warga Purwakarta. Matak, teu anéh upama éta pintonan téh jadi pangdeugdeugan balaréa. Kolot budak tumplek ka éta tempat.
Nang-neng-nongna gamelan Bali lir mépéndé haté, ngajak pipikiran nyoréang mangsa ka tukang. Komo deui waktu nu mawakeun acara nyebut-nyebut éta pintonan téh ngalalakonkeun Perang Bubat, pipikiran nu lalajo kabetot ka mangsa abad ka 14, ka waktu kajadian Perang Bubat téa.
Ceuk ujaring carita nu kaunggel dina Kidung Sundayana nu kapanggih di Bali,  eta carita téh ngalalakonkeun Hayam Wuruk nu ngalamar  Citraresmi, Putri Raja Sunda. Panglamarna ditarima, sarta rombongan ti karajaan Sunda téh ngabring ka Majapait seja ngawinkeun éta putri ka raja Majapahit téa. Tapi, karepna kitu téh teu laksana  lantaran kahayang Patih Gajah Mada mah, Citraresmi téh kudu jadi  upeti tandaning Sunda serah bongkokan ka Majapahit. Tangtu wé, karep patih kitu téh ditolak sapajodogan ku pihak Sunda.  Antukna, der perang campuh, raja Sunda gugur di éta tempat, di palagan Bubat. Kitu deui Citraresmi, leuwih milih nelasan pati  melaan harega diri.
Eta carita  remen jadi inspirasi para seniman. Aya nu nyanggi éta lalakaon dina kidung, dina puisis, dina novel, kaasup oge dina sendratari. Lakaon Perang Bubat, teu weléh jadi daya pangirut ti mangsa ka mangsa keur urang tatar Sunda.

Silaturahmi Budaya
Keur urang Purwakarta, hayang lalajo pintoonan kasenian daérah sejenna teu kudu jauh-jauh, cukup wé di lemburna. Kitu téh, lantaran Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, gedé katineungna kana budaya téh, kaasup kana kasenian dulur-dulur di Nusantara.
Ari seniman, tangtu wé, mintonkeun kasenian téh luyu jeung ‘konteksna’ atawa dipiwanoh ku nu lalajona. Matak, lalakon nu dipagelarkeun gé nyokot babon tina Kidung Sundayana téa. Ku cara kitu, lelembutan nu lalajo téh, kabetot kana pintonan nu dihadirkeun ku para seniman Bali.
Pagelaran nu mangrupa Tari kolosal ‘Prabu Siliwangi’  dilalakonkeun ku 113 seniman ti  Sanggar Tari Paripurna Bona Gianyar Bali. Cundukna ka Purwakarta gé dijejeran ku bupati Gianyar,  Anak Agung Gede Agung Bharata. LIan ti seniman Bali, panari Purwakarta gé ilu-biung jadi bagian éta pintonan.


Hiburan téh, enya tongtonan, tapi deui tungtunan. Kitu téh, saperti ditetelakeun ku salah saurang nu lalajo eta pagelaran. Enung Tuti, urang Jatiluhur Purwakarta, ngakuna mah biasa hadir mun aya pintonan nu aya di Purwakarta téh. Ceuk ieu indung nu budakna dua téh, pintonan-pintonan kitu, lain ukur hiburan, tapi deui jadi pangaweruh nu ajen-inajenna bisa jadi tuladeun.
“Bawirasa, pintonan kawas kieu téh saé pisan. Enya, sanés mung ukur kanggo hiburan, tapi deuih tungtunan. Sae pisan,  tiasa ngahudang sareng nambihan optimisme kanggo urang Sunda,” ceuk ieu manten aktivis téh.
Pangbagéa séjénna, ditétélakeun ku  Mr. L.A.N Fiddes,  urang  Australia nu ngahaja  datang kana pintonan sakalian nitenan  kabudayaan nu aya di Indonesia. Inyana  nu matuh di Bali ti taun 1999 téh ngaku kataji jeung ngaapresiasi  budaya Sunda nu ceuk dirina mah ngagambarkeun kabasajanan jeung kasoméahan.
“Pintonan kasenianana, sae pisan!  Urang dieu mah saroméah deuih, nu sapertos kitu téh, jarang kapendak di Australia mah,” pokna dina basa Indonésia anu lancer.
Pintonan seniman Sunda-Bali, meunang pangabagéa ti balaréa. Loba nu hadir kana éta acara téh. Lian ti para seniman, ogé nu sejenna, saperti Farhat Abbas (Pangcara), Iwan Pilliang, Muspida, jeung pajabat Pemkab Purwakarta.
Saperti kasenian umumna, pintonan harita gé boga ciri mandiri nu béda jeung seni-seni séjénna. Ku lantaran kitu, éta kasenian téh boga daya pangirut anu mandiri. Matak, teu anéh, mun nu lalajo gé bangun baretah. Geuning, najan girimis kerep  nepi ka peuting,  tetep pogot,  teu ingkah tina tempatna.
Lalakon peuting éta, keuna kana mamaras rasa. Saperti nu ditetelakeun ku salah saurang nu lalajo, lain ukur tarian-tarianan nu matak narik ati téh, tapi deuii satukangeun guluburna pintonan tea.  Nu dilalakonkeun, ngahudang sumanget, ningkatkeun ajén diri, lantaran aya tuladeun ti karuhun Sunda mangsa baheula. ***
Read More»

thumbnail

Nu Ngumbara di Tatar Sunda

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments

Najan teu ngarti, tapi karasa. Kitu lagu-lagu Sunda mah, ceuk urang luar teureuh Sunda. Naha enya?
Tepang asih, tepang asih//Tepang gerah ku kabungah//Nyanding sekar pangwilujeng//Wilujeng ka anu lenggah. Tepang asih, tepang asih//Tepang gerah ku kabungah//Sumangga sing raos lenggah//Sumangga sing raos manah.
Di antara lirik di luhur, judulna Tepang Asih. Harita keur anteng ngalaeu ngahaleuang. Sorana saweur ka luareun tempatna di lingkung Seni ‘Riung Mungpulung, Jl. Riung Mungpulung Raya No. 10 Cisaranten Kidul Gedébagé Kota Bandung. Tukang kacapi, tukang goong, tukang kendang, juru kawih, harita bagun sarumanget pisan. Kituna téh, singhoréng keur tatan-tatan, lantaran, rék diondang manggung dipayuneun para gegedén puseur dayeuh nu hadir kana acara di Pusdai Jawa Barat.
Lingkungan Seni ‘Riung Mungpulung’, upama dina kagiatan kaagamaan mah, mémang geus pada mikawanoh. Kituna téh, lantaran sering diondang dina saban kagiatan, pangpangna di lingkungan kamasjidan nu sok diayakeun ku Dewan Masjid Indonesia (DMI) Wilayah Jawa Barat. Sapertina waé, pernah minton dina instrénan para pangurus pembina TK Islam sa-Jawa Barat di gedong KNPI Jawa Barat ogé dina Muswil DMI Jawa Barat di Hotel . Hartina, lingkung seni ‘riung mungpulung’ memang geus meunang kapercayaan ti masarakat. “Alhamdulillah, lingkung seni riung mungpulung kénging kapercantenan ti masarakat,” ceuk Bapa Ir. H. Suharjanto Muljono nu katelahna Mister Tepang Asih daria naker.
Naon atuh garapan ieu lingkung seni riung mungpulung téh?
Luyu jeung kamekaran seni Sunda, boga garapan nu mandiri, nyaéta mekarkeun seni sunda bari ngajak kana ngahadéan amar ma’ruf nahyi mungkar. Tegesna, keur urang Sunda mah, mekarkeun da’wah téh lain saukur pidato, tapi ogé bisa ngaliwatan seni. Ku kituna aya rupa-rupa widang garapan. Sapertina waé aya kacapian ogé ngawih Sunda “Udaganana mémang hoyong sasieureun sabeunyeureun ngiring umajak kahadéan. Papatah dina lirik kawih Sunda, kantenan tiasa janten teuleumaneun urang sadayana. Motona ogé apan henteu jauh tina cepengan urang Sunda, silih asih ku kawih, salagu ti tatar Sunda,” saurna Mister Tepang Asih nu ogé ngajar di UNINUS Bandung.
Upama ieu lingkung seni jinek garapanana, lantaran mémang sadar, ngamumulé budaya jeung sastra Sunda téh, jadi kawajiban nu nganjrek di tatar Sunda. Ku kituna, lingkung seni riung mungpulung ogé, lian ti ningkatkeun kamotekaran ngawih, ogé bari nyiptakeun sababaraha judul kawih, nu di antarana, Gedebagé Nanjung jeung BPTKI Jawa Barat. Atuh sababaraha kawih séjénna nu sok dipintonkeun, di antarana; Tepang Asih, Kukupu, Wangsit Pahlawan, Sunda Mekar, ogé Duh Indung.

Ti Masjid keur Sunda

Islam jeung Sunda kacida dalitna. Kituna téh, lantaran ajaran Islam mah kacida loyogna jeung pasipatan urang Sunda. Ku kituna, keur ieu lingkung seni gé, kacida miharepna, ngawih ku cara nu islami leuwih mekar. Komo deui, mekarna kawih Sunda nu islami, sacara henteu langsung ogé kantos dimekarkeun ku panataras kawih sohor Mang Koko, nu ogé katelah nyantri. Dina lalampahanana, Mang Koko ampir tiap Subuh sok adan kalawan ngahaleuangna ngagunakeun sorog, pélog atawan madenda. Lantaran sorana halimpu jeung nyerep kana mamaras haté, nepi ka masarakat sabudeureun masjid jadi harayang gancang solat ka masjid.
Saperti lalampahan Mang Koko, Lingkung Seni Riung Mungpulung ogé geusan mupujuhkeun pamiangan kawih Sunda nu dimitembeyanan ti Masjid. “Ti Masjid Al-Adha Riung Bandung, lingkung seni riung mungpulung téh diadegkeunana. Kituna téh mudah-mudahan seueur barokahna, henteu leungiteun paniatan, geusan ngamumulé seni Sunda jeung da’wah Islam,” ceuk Ir. H. Suharjanto Muljono, pupuhu Lingkung Seni Riung Mungpulung tembres.


Lian ti programna ngadumaniskeun seni Islam Sunda, singhoréng ieu lingkung seni téh, nu ngokolakeunana béda jeung lingkung seni séjénna. Upama loba lingkung seni Sunda dikokolakeun ku nu geus ngakar ti baheulana atawa warisan sepuhna, ari lingkung seni riung mungpulung mah béda. Ieu lingkung seni mah dikokolakeunna téh ku nu ngalumbara ti daérah luar Jawa Barat. Sapertina waé aya teureuh Salatiga, Magelang, Sumatera, Lampung jeung sajabana. “Ieu lingkung seni diadegkeun tur dikokolakeun ku multi étnis. Aranjeunna nu leres-leres nyaah ka sarakan Sunda ogé mémang tos lami ngajrek di tatar Sunda,” saur ieu pangarang lirik Gedebagé Nanjung teureuh Salatiga Jawa Tengah téh.

Mekarkeun seni Sunda mémang lain saukur kawajiban teureuh Sunda wungkul, tapi ogé keur warga ti luar Sunda nu memang nganjrek di Tatar Sunda. Kitu ogé keur para pangurus lingkung seni Riung Mungpulung, sanajan kasebutna teureuh luar Sunda, tapi digedékeun mah di tatar Sunda. Cek paribasana mah lir pindah cai pindah tampian. Atuh mekarkeun Sunda ogé ngarasa geus jadi kawajiban. “Kantenan deuih, aranjeunna nu tos puluhan taun di tatar Sunda. Sanes hartosna tiasa, komo parigel pisan mah, tapi éstuning étang-étang diajar mintonkeun seni Sunda baé,” pokna deui.
Lingkung Seni Riung Mungpulung geusan mekarkeun seni Sunda ogé, henteu waé di lingkungan tatar Sunda, tapi ogé mintonkeun ka luar tatar Sunda. Sapertina waé, pernah meunang pangondang ti Magelang. Kalawan henteu ngarasa leutik haté, harita ngacapian jeung ngahaleuang kawih Sunda ti tatar Magelang. Sanajan kasebut ti tatar Jawa, teu ngalarti kana basa Sunda, tapi nu haladir harita ngarasa ngahibur. Lantaran, cenah, lagu Sunda mah, matak raos kakupingna. “Nyaéta, lagu Sunda mah pada mikaresep jeung mémang aya unggulna. Sanajan teu apal kana hartina, tapi angger waé betah kakupingna tur matak nyerep kana haté. Tah, di dinya unggulna,” pokna.

H. Suharjanto nu kiwari mupuhuan Lingkung Seni Riung Mungpulung, mémang micinta pisan kana seni Sunda, lantaran lagu-lagu Sunda mah bisa ngahudang sumanget. Boh sumanget keur hadé ka sasama, ogé sumanget kana gawé nu rancagé.  “Lagu Sunda matak ngahudang sumanget, matak betah haté, ngajurung sangkan hadé ka sasama,” ceuk ieu pagawé Telkom manten téh.
Lingkung Seni Riung Mungpulung, diadegkeun dina ping 6 Agustus 2005 di Komplek Riung Bandung Permai Bandung. Luyu jeung kamekaranana, ieu lingkung seni, lian ti manggung dina kagiatan kaagamaan, ogé sering diondang ku pihak pamaréntahan, masarakat umum ogé média éléktronik séjénna, sapertina waé di TVRI Bandung, RRI Bandung, kantor-kantor kacamatan, Telkom, ogé ka sakola-sakola.

Lingkung Seni Riung Mungpulung terus mekar. Sanajan dikokolakeun ku nu ngalumbara di tatar Sunda, tapi teu leungiteun sumangetna. Kituna téh, lantaran bogoh jeung boga karep, sangkan nu nganjrek di tatar Sunda kudu leuwih nyaah kana seni Sunda. *** 
Read More»

13 Apr 2015

thumbnail

Rakor Pupuhu & Bendahara SMK Pasundan Sa-Jabar jeung Banten

Posted by Nurhadi Prayogi  | No comments







Read More»

    If you would like to receive our RSS updates via email, simply enter your email address below click subscribe.

back to top